Bengkulu — Kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian dan tindakan nyata dari seluruh lapisan masyarakat. Kekerasan dapat terjadi di berbagai ruang, mulai dari rumah tangga, lingkungan pendidikan, tempat kerja, lingkungan sosial, hingga ruang digital.
Kekerasan tidak selalu meninggalkan luka yang terlihat. Selain kekerasan fisik, terdapat kekerasan psikis, seksual, ekonomi, serta kekerasan berbasis gender online yang dapat berdampak pada kesehatan mental, rasa aman, kepercayaan diri, dan kehidupan sosial korban.
Sering kali, kekerasan berlangsung dalam situasi relasi kuasa yang tidak seimbang. Korban dapat mengalami ancaman, intimidasi, manipulasi, atau ketergantungan ekonomi yang membuat mereka kesulitan untuk keluar dari situasi kekerasan. Dalam kondisi tersebut, korban membutuhkan dukungan dan perlindungan, bukan penghakiman.
Mengenali Kekerasan Adalah Langkah Awal untuk Mencegahnya
Kekerasan dapat muncul dalam berbagai bentuk. Kekerasan fisik berupa tindakan yang melukai tubuh, sedangkan kekerasan psikis dapat berupa penghinaan, ancaman, kontrol berlebihan, dan tindakan yang merendahkan martabat seseorang. Kekerasan seksual mencakup tindakan seksual tanpa persetujuan yang bebas, sedangkan kekerasan ekonomi dapat terjadi ketika seseorang mengendalikan atau membatasi akses korban terhadap sumber daya ekonomi secara merugikan.
Di era digital, kekerasan juga dapat terjadi melalui penyebaran konten intim tanpa persetujuan, ancaman daring, pelecehan, perundungan, serta penyalahgunaan data pribadi.
Mengenali berbagai bentuk kekerasan menjadi langkah penting agar masyarakat tidak menganggapnya sebagai hal yang wajar. Tidak ada alasan yang membenarkan tindakan kekerasan, dan tidak seorang pun pantas mengalaminya.
Korban Membutuhkan Dukungan, Bukan Menyalahkan
Salah satu hambatan yang dihadapi korban untuk mencari pertolongan adalah stigma dan sikap menyalahkan korban. Pertanyaan seperti “Mengapa tidak melawan?”, “Mengapa baru melapor sekarang?”, atau “Apa yang kamu lakukan sampai mengalami itu?” dapat menambah beban psikologis korban.
Setiap korban memiliki pengalaman dan situasi yang berbeda. Ketakutan, ancaman, ketergantungan ekonomi, tekanan keluarga, serta kekhawatiran terhadap keselamatan dapat memengaruhi keputusan korban untuk berbicara atau mencari bantuan.
Karena itu, ketika seseorang menceritakan pengalaman kekerasan, dengarkan tanpa menghakimi, hormati keputusannya, jaga kerahasiaan informasi, dan bantu menghubungkannya dengan layanan yang aman sesuai kebutuhannya. Keselamatan dan kepentingan terbaik korban harus menjadi prioritas.
Apa yang Dapat Dilakukan Ketika Mengalami atau Menyaksikan Kekerasan?
Masyarakat memiliki peran penting dalam membangun lingkungan yang aman dan bebas dari kekerasan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Utamakan keselamatan. Jika berada dalam bahaya, carilah tempat yang lebih aman dan hubungi orang atau layanan yang dapat membantu.
- Ceritakan kepada orang yang dipercaya. Korban berhak mendapatkan dukungan tanpa tekanan untuk menceritakan hal yang belum siap dibagikan.
- Cari bantuan profesional. Korban dapat mengakses layanan pendampingan, konseling, bantuan hukum, atau layanan perlindungan sesuai kebutuhannya.
- Dukung tanpa menghakimi. Jika mengetahui seseorang mengalami kekerasan, dengarkan, percaya pada ceritanya, dan jangan menyebarkan identitas atau pengalaman korban tanpa persetujuannya.
- Berani mengambil tindakan yang aman. Jika menyaksikan kekerasan, jangan mengabaikannya. Cari bantuan pihak yang berwenang atau layanan pendampingan apabila diperlukan.
Untuk kekerasan terhadap anak, keselamatan dan kepentingan terbaik anak harus diutamakan. Anak perlu didengarkan dengan pendekatan yang sesuai usianya dan tidak boleh dipaksa mengulang cerita secara berlebihan.
Bersama Cahaya Perempuan WCC Bengkulu, Wujudkan Ruang Aman
Pencegahan kekerasan bukan hanya tanggung jawab korban atau keluarga, melainkan tanggung jawab bersama. Pendidikan tentang kesetaraan gender, penghormatan terhadap batasan pribadi, pengasuhan tanpa kekerasan, serta keberanian untuk menolak perilaku yang merendahkan orang lain merupakan bagian penting dari upaya pencegahan.
Cahaya Perempuan WCC Bengkulu mendorong terciptanya lingkungan yang menghormati hak, martabat, dan keselamatan perempuan serta anak. Dukungan kepada korban perlu diwujudkan melalui sikap yang berpihak pada keselamatan korban, akses terhadap pendampingan yang sesuai, dan upaya bersama untuk menghentikan siklus kekerasan.
Kekerasan bukan aib korban. Tanggung jawab atas tindakan kekerasan berada pada pelaku, dan korban berhak mendapatkan perlindungan serta dukungan untuk memulihkan kehidupannya.
Mari bersama membangun Bengkulu yang lebih aman, adil, dan setara. Hentikan kekerasan, dengarkan korban, dan jadilah bagian dari perubahan.
Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami kekerasan, carilah bantuan melalui layanan pendampingan perempuan dan anak yang tersedia di wilayah Anda. Dalam keadaan darurat, utamakan keselamatan dan hubungi layanan darurat setempat.



Tinggalkan Balasan