Saya Suhartini, biasa dipanggil Hartini. Saya lahir dan besar di Desa Sumber Urip Kab. Rejang Lebong. Sebagai anak pertama dari lima bersaudara yang lahir pada 11 Desember 1972. Sejak dari kecil saya telah menjadi buruh dikebun agar dapat menyelesaiakan pendidikan saya sampai lulus di sekolah menegah atas (SMA). Setelah saya tamat sekolah menengah kemudian saya memutuskan untuk berkerja di Kota Bengkulu. Namun setelah menikah saya kembali ke Desa dimana saya dilahirkan. Setelah saya menikah kemudian saya dikenalkan dengan sebuah lembaga yang bernama Cahaya Perempuan WCC dan diajak bergabung menjadi kelompok.
Perubahan yang dialami oleh Ibu Suhartini adalah perempuan desa yang dianggap marginal bisa mempengaruhi pemerintahan desa yaitu pada tahun 2017 Ibu Suhartini mengusulkan dalam musyawarah desa (MUSREMBANGDES) anggaran untuk isu-isu perempuan yang kurang mendapatkan dukungan dana desa, usulan tersebut kemudian dimasukan kedalam dokumen anggaran desa sebesar Rp 15.000.000 untuk kegiatan penyuluhan mengenai HKSR. Pada saat itu perempuan-perempuan desa masih sangat minim akses informasi terkait HKSR, Apalagi desa Sumber Urip mayoritas adalah suku jawa dimana ketika membahas mengenai persoalan HKSR masih dianggap tabu padahal itu sangat penting. Selain mempengaruhi ditingkat Desa Suhartini juga dapat mempengaruhi perempuan-perempuan desa dalam segi Penguatan Ekonomi dengan melakukan dengan simpan pinjam atau CU (Credit Union) diberi nama Harapan Perempuan. Dengan kelompok ini diharapkan menjadi sumber pengetahuan bagi perempuan-perempuan desa terutama terkait persoalan isu-isu perempuan baik untuk perempuan muda & perempuan dewasa. Awalnya kelompok yang dibentuk ini anggota sedikit namun lama kelamaan menjadi banyak sekarang menjadi 20 orang anggota dengan jumlah saham Rp. 32.185.000. Dengan adanya kelompok ini dimanfaatkan oleh anggota kelompok untuk belajar tentang isu-isu HKSR yang belum mereka dapatkan serta dapat melakukan peminjaman di CU untuk modal usaha mereka yang mayoritas sebagai petani misal untuk pembelian pupuk dll.
Suhartini telah menjadi cahaya bagi perempuan di desanya di Bengkulu. Keberaniannya dalam memperjuangkan hak perempuan berhasil mendorong pemerintah desa untuk mengalokasikan anggaran bagi pendidikan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR). Tak hanya itu, ia juga menginisiasi pembentukan kelompok belajar dan koperasi simpan pinjam “Harapan Perempuan”, yang membuka peluang bagi perempuan desa untuk mandiri secara ekonomi.
Langkah Suhartini tidak terlepas dari dukungan organisasi Perempuan Sumatera Mampu (PERMAMPU) melalui mitra lokalnya, Cahaya Perempuan, dengan dukungan Program INKLUSI. Melalui Forum Komunitas Perempuan Akar Rumput (FKPAR) yang diinisiasi PERMAMPU, Suhartini mendapatkan ruang untuk berdiskusi, belajar, dan mengasah keterampilan kepemimpinan.
Selain itu, ia mengikuti pelatihan dan pendampingan dalam advokasi kebijakan yang membekalinya dengan pengetahuan dan kepercayaan diri untuk mendorong perubahan di desanya.
Pada tahun 2017, dengan dukungan yang diperolehnya dari pelatihan tersebut, Suhartini berpartisipasi dalam Musyawarah Pembangunan Desa (Musrenbangdes) dan mengusulkan alokasi anggaran desa untuk penyuluhan HKSR bagi perempuan. Menurutnya, informasi terkait HKSR masih dianggap tabu oleh masyarakat setempat, terutama bagi perempuan. Usulannya diterima, dan pemerintah desa mengalokasikan dana sebesar Rp15.000.000 untuk kegiatan penyuluhan tersebut.
Selain itu, kelompok koperasi simpan pinjam “Harapan Perempuan” yang ia rintis bersama teman-temannya terus berkembang. Awalnya hanya beranggotakan beberapa orang, kini kelompok ini telah memiliki 20 anggota dengan total saham mencapai lebih dari Rp32.000.000. Kelompok ini tidak hanya menjadi wadah untuk meningkatkan kemandirian ekonomi, tetapi juga menjadi jalan masuk bagi perempuan untuk mendapatkan beragam informasi, termasuk tentang HKSR. Melalui diskusi dalam kelompok, para anggota mendapatkan pemahaman lebih luas mengenai hak-hak mereka, termasuk hak kesehatan reproduksi, serta akses ke pinjaman modal usaha, seperti pembelian pupuk bagi petani.
Sebagai anak pertama dari lima bersaudara, sejak kecil Suhartini bekerja sebagai buruh di kebun demi menyelesaikan pendidikannya hingga tingkat SMA. Setelah lulus, ia sempat merantau dan bekerja di Kota Bengkulu selama beberapa tahun sebelum akhirnya kembali ke desanya setelah menikah. Di desa, ia dikenalkan dengan lembaga Cahaya Perempuan dan bergabung dengan FKPAR. Dari sinilah ia menemukan panggilan untuk memberdayakan perempuan di desanya, karena ia ingin teman-temannya juga bisa maju bersama.










Tinggalkan Balasan